Beranda blog Halaman 13

Comeback Epik! Drama 5 Set Garuda Jaya Paksa Samator Mainkan Partai ‘Hidup-Mati’

0

Taktik.id – GOR Amongrogo bergemuruh! Laga perebutan peringkat ketiga Proliga 2026 menyajikan ketegangan tingkat tinggi saat Jakarta Garuda Jaya menolak menyerah dan sukses membungkam Surabaya Samator lewat pertarungan lima set penuh keringat pada Rabu (22/4/2026).

Berada di ambang kegagalan, Garuda Jaya bangkit mencetak kemenangan dramatis dengan skor 3-2 (25-23, 22-25, 19-25, 25-22, 15-13). Kemenangan krusial ini bukan sekadar angka, melainkan penyambung napas yang membuat kedudukan agregat kini imbang 1-1. Alhasil, siapa yang berhak membawa pulang gelar juara tiga harus ditentukan lewat duel sengit leg ketiga!

Sejak peluit pertama dibunyikan, pelatih Garuda Jaya, Nur Widayanto, langsung menurunkan daya ledak maksimal lewat trio Dawuda, Fauzan Nibras, dan Movsar Bataev. Strategi ini langsung membuahkan hasil di set pembuka. Meski Samator memberikan perlawanan alot hingga deuce nyaris terjadi, sebuah monster block dari barisan pertahanan Fauzan Nibras dkk sukses mengunci set pertama 25-23 untuk Garuda Jaya.

Namun, Samator bukanlah lawan yang mudah diruntuhkan. Dimotori duet Jordan Michael dan Lyvan Taboada, serta penampilan brilian Tedy Oka, raksasa voli ini langsung mengamuk. Mereka sukses mengambil alih kendali permainan, merebut set kedua 25-22, dan tampil mendominasi di set ketiga dengan kemenangan meyakinkan 25-19. Posisi Garuda Jaya benar-benar di ujung tanduk saat Samator berbalik unggul 2-1!

Di tengah tekanan luar biasa, mental baja skuad Garuda Jaya justru terpantik. Sempat tertinggal 13-16 di set keempat, Dawuda dkk menolak takluk. Mereka mengejar ketertinggalan hingga menyamakan kedudukan 19-19, menjaga fokus di poin-poin kritis, dan sukses merebut set keempat 25-22 untuk memaksa terjadinya set penentuan.

Set kelima menjadi arena adu mental. Garuda Jaya yang langsung tancap gas memimpin 5-3 sempat dikejar oleh skuad penuh pengalaman Samator hingga skor sama kuat 10-10. Di momen-momen yang menguras emosi ini, serangan mematikan Garuda Jaya yang gagal dibendung pertahanan Samator mengunci kemenangan epik 15-13.

Kebangkitan Garuda Jaya ini tak lepas dari perubahan pola pikir dan strategi di lapangan. Pelatih Garuda Jaya, Nur Widayanto mengakui kalau tim asuhannya berbeda penampilannya di leg kedua ini.

“Anak-anak bermain lebih terbuka dibanding pertandingan pertama,” ujar Nur Widayanto usai laga.

Kegembiraan tak dapat disembunyikan oleh pemain Garuda Jaya, Fauzan Nibras. Ia mengakui kemenangan di leg kedua ini diraih karena ia dan rekan-rekan setimnya mampu mengendalikan ritme dan bermain dengan pikiran yang jauh lebih tenang.

Di kubu seberang, manajer tim Samator, Hadi Sampurno menyayangkan lepasnya momentum kemenangan tersebut. Ia menyebut timnya sudah diingatkan untuk mewaspadai kebangkitan Garuda Jaya di leg kedua ini.

“Set pertama kita sudah unggul. Tapi anak-anak kurang tenang,” ujar Hadi.

Faktor mental ini pun dibenarkan oleh Jordan Michael. Pemain andalan Samator tersebut merasa timnya justru terjebak oleh beban ekspektasi di lapangan.

“Garuda Jaya tampil lebih tenang, sedangkan Samator seperti kena pressure,” pungkas Jordan.

Lahirnya Raksasa Muda Jatim: Kejutan 4 Emas di Panggung Kejurnas Senior 2026!

0

Taktik.id – Panggung GOR Saparua, Bandung, menjadi saksi bisu bahwa usia hanyalah angka. Meski datang dengan status tim yang didominasi lifter muda, kontingen Angkat Besi Jawa Timur berhasil mengacak-acak dominasi senior dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi Senior 2026 yang berlangsung 15-20 April kemarin.

Jatim pulang dengan kepala tegak membawa 4 medali emas, 3 perak, dan 3 perunggu. Hasil ini menempatkan mereka di posisi keempat nasional, membuntuti Lampung (6 emas), Jawa Barat (5 emas), dan Jambi (5 emas).

Nama Amel Chandra dan Ardaraya mendadak jadi buah bibir. Amel yang turun di kelas 53 kg putri tampil perkasa dengan menyabet dua emas dan satu perak. Tak mau kalah, Ardaraya di kelas 70 kg putra juga mengamankan dua emas dan satu perak.

Capaian ini semakin manis dengan tambahan medali dari:

  • Wahyu Fajar Fauzan (75 kg putra): 1 Perak.
  • Angga Romansyah** (60 kg putra): 3 Perunggu.

Hebatnya, prestasi ini diraih di tengah absennya para bintang veteran seperti Eko Yuli Irawan, Rahmat Erwin, Alvin Saputra, dan Luluk Diana yang tengah fokus di Seleknas Asian Games. Artinya, Jatim sukses melakukan regenerasi secara instan dan efektif.

Ketua PABSI Jatim, Jeffry Tagore, melihat fenomena ini sebagai sinyal positif bagi masa depan angkat besi Jatim. Keberanian menurunkan atlet muda di level senior terbukti membuahkan hasil yang di luar dugaan.

“Kita bandingkan atlet junior kita dengan senior, ternyata secara prestasi sudah mendekati seniornya. Bahkan Amel Chandra bisa meraih emas di kategori senior dengan usia (19 tahun) yang masih junior,” kata Jeffry Tagore.

Meski belum mencapai target awal enam emas, hasil ini dinilai sangat gemilang mengingat mayoritas atlet yang dibawa masih berusia sangat hijau, bahkan tiga di antaranya berstatus non-puslatda.

Namun, manajemen Jatim tidak ingin cepat puas. Bagi mereka, Kejurnas ini hanyalah “pemanasan” menuju target yang lebih besar yaitu, PON 2028. Evaluasi tetap dilakukan, terutama bagi para atlet senior yang performanya belum maksimal seperti Samuel Joshua, Iqbal Tawakkal, dan Bima Aji yang kali ini harus pulang tanpa medali.

“Dari hasil ini kita akan evaluasi khususnya pada atlet senior kita (Iqbal dan Bima) perlu kita pantau serius latihannya dan akan kita prediksi kembali target medalinya pada PON 2028. Memang hal ini belum bisa dijadikan final judgement karena Puslatda baru saja dimulai kembali pada awal April 2026 ini. Tentunya mereka juga belum pada kondisi puncaknya, maka itu akan kita evaluasi kembali pada beberapa bulan ke depan dengan mengadakan test prestasi,” pungkas Jeffry.

Dengan mesin regenerasi yang mulai panas, Jatim kini punya waktu cukup untuk memoles para “berlian muda” ini menjadi monster di atas panggung angkat besi dua tahun mendatang.

Kartini Masa Kini yang Taklukkan Ring Basket Asia

0

Taktik.id – Jika dulu Raden Ajeng Kartini berjuang melalui pena dan surat-suratnya dari Jepara, hari ini “Kartini-Kartini” baru Indonesia sedang menuliskan sejarah mereka sendiri, bukan di atas kertas, melainkan di atas lapangan kayu dengan keringat dan prestasi.

Memperingati Hari Kartini setiap 21 April bukan sekadar seremoni mengenang pahlawan yang lahir pada 1879 silam tersebut. Bagi dunia olahraga nasional, ini adalah pengingat bahwa batasan bagi perempuan sudah lama runtuh.

Sekjen DPP PERBASI, Nirmala Dewi, yang juga merupakan perempuan pertama yang menjabat posisi strategis tersebut, memberikan pesan kuat bagi seluruh perempuan di tanah air. Ia menekankan bahwa profesionalisme dan peran dalam keluarga bisa berjalan beriringan.

“Sekarang ini perempuan berada di sektor-sektor penting. Tidak lagi canggung untuk menunjukkan karyanya. Peran Kartini dalam menginspirasi perempuan Indonesia sangat luar biasa,” terang Nirmala.

Timnas Basket Putri Indonesia sedang berada di masa keemasannya. Dari nomor 3×3 hingga 5×5, srikandi Indonesia sukses membuat bendera Merah Putih berkibar di kancah internasional.

Beberapa torehan tinta emas para pebasket putri kita diantaranya, Medali emas SEA Games 2025 Thailand pada kategori 3×3, (Setelah sebelumnya 2 Perunggu). Dikancah Asia pada ajang FIBA 3×3 Asia Cup 2022 Timnas putri berhasil menjadi nomer 3 di Asia.

Dari kategori 5×5 Putri juga sudah menyumbangkan Medali emas pertama dalam sejarah di SEA Games 2023 Kamboja. Sedangkan pada ajang FIBA Women’s Asia Cup, para srikandi berhasil promosi ke Divisi A (Elite Asia).

Keberhasilan ini membuktikan bahwa basket Indonesia kini menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan di level Asia.

“Catatan prestasi di dunia bola basket putri ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak kekurangan perempuan hebat,” tegas Nirmala Dewi.

Perjuangan belum usai, tepat setelah perayaan Hari Kartini tahun ini, para srikandi basket 3×3 Indonesia langsung bertolak menuju medan perang baru yaitu. Asian Beach Games Sanya 2026.

Nirmala Dewi mengajak seluruh masyarakat untuk memberikan energi positif dan dukungan penuh bagi tim yang akan bertanding pada 22-30 April tersebut.

“Pada 22-30 April nanti, Timnas Basket 3×3 Putri kita akan bersaing di Asian Beach Games Sanya 2026. Mari satukan dukungan untuk para Kartini kita yang berjuang di Sanya ini diberikan kekuatan, keselamatan, dan hasil yang maksimal untuk kebanggaan bangsa Indonesia dan menjadi kado indah di momen Kartini tahun ini,” pungkasnya.

Sudah saatnya kita berhenti memandang sebelah mata. Di tangan para perempuan ini, bola basket Indonesia tidak hanya sekadar permainan, tapi adalah simbol kehormatan bangsa.

Toni Firmansyah dan Persebaya “Guncang” Benowo Krajan

0

Taktik.id – Lapangan Benowo Krajan berubah menjadi lautan semangat pada Minggu (19/4). Bukan sekadar olahraga biasa, agenda Persebaya Kampung Wani bersama Antanginkali ini terasa jauh lebih emosional. Ratusan warga sudah memadati lokasi sejak fajar menyingsing, menanti kehadiran pahlawan lokal mereka dalam suasana penuh kekeluargaan.

Momen paling mengharukan terjadi saat bus pemain tiba. Di antara deretan bintang yang hadir, sosok Toni Firmansyah menjadi pusat perhatian utama. Gelandang muda potensial Persebaya ini bukan orang asing bagi warga setempat. ia adalah putra asli Benowo yang kini bersinar di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Didampingi rekan setimnya, Francisco Rivera dan Gali Freitas, Toni tampak tak henti melempar senyum saat dikerumuni warga yang ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Baginya, ini bukan sekadar tugas klub, melainkan kepulangan ke akar tempatnya memulai mimpi.

“Rasanya senang sekali bisa kembali ke sini. Banyak wajah yang saya kenal sejak kecil. Antusiasme warga luar biasa, semoga kegiatan seperti ini bisa terus mempererat kebersamaan antara Persebaya dan masyarakat,” ujar Toni.

Kemeriahan acara dimulai sejak pukul 06.00 WIB dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang membakar semangat, disusul jalan sehat warga RT 03/RW 02. Tak hanya itu, tensi persaingan yang seru muncul dalam games football 5 vs 5 yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Kehadiran Antangin dalam kolaborasi ini menegaskan pentingnya menjaga kebugaran tubuh di tengah aktivitas yang padat. Gideon Cahya Negara, Junior Brand Manager Antangin, menekankan bahwa sepak bola adalah medium terbaik untuk menyebarkan pesan pola hidup sehat.

“Melalui Persebaya Kampung Wani bersama Antangin, kami ingin mengajak masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan tetap aktif berolahraga. Kami berharap kegiatan ini juga membuat masyarakat semakin dekat dengan produk herbal yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian mereka,” jelas Gideon.

Ia juga menyoroti bagaimana figur seperti Toni Firmansyah mampu menjadi inspirasi nyata bagi lingkungan sekitarnya.

“Kami melihat bagaimana warga sangat bangga dengan Toni sebagai putra daerah. Kedekatan seperti ini menjadi bukti bahwa sepak bola mampu menghadirkan kebersamaan dan kebanggaan bagi lingkungan tempat seorang pemain berasal,” tambahnya.

Apresiasi tinggi datang dari Ketua RW 02 Benowo Krajan, Rianto. Ia melihat acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan perekat hubungan antara warga dengan klub kebanggaan Surabaya tersebut.

“Dengan adanya dukungan dari Persebaya dan Antangin, kegiatan seperti ini bisa menjadi ruang kebersamaan bagi warga. Selain menyehatkan, acara ini juga mempererat hubungan antara masyarakat dan klub kebanggaan mereka,” pungkas Rianto.

Acara yang berlangsung meriah ini ditutup dengan kejutan door prize dan momen magis saat seluruh lapangan bersatu menyanyikan Song For Pride. Di bawah langit Benowo, kebersamaan antara idola dan penggemar itu menyatu dalam harmoni yang tak terlupakan.

Workshop Laws of The Game: Saat Jurnalis Ditantang Menjadi Hakim Lapangan Hijau

0

Taktik.id – Selama ini, wasit sering kali menjadi sasaran empuk caci maki saat keputusan di lapangan dianggap kontroversial. Namun, bagaimana jadinya jika para pemburu berita justru ditantang untuk menganalisis pelanggaran layaknya seorang pengadil?

Suasana seru itulah yang mewarnai Workshop Laws of The Game yang digelar PSSI bersama Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Gedung U5 FIKK Unesa, Sabtu (18/4/2026). Tak tanggung-tanggung, sang maestro perwasitan asal Jepang, Yoshimi Ogawa, turun gunung langsung untuk mengedukasi puluhan jurnalis.

Ogawa, yang telah mengabdikan 30 tahun hidupnya di dunia perwasitan, membawa misi besar yaitu, memutus rantai kebencian terhadap perangkat pertandingan. Ia menyoroti fenomena di mana wasit selalu menjadi kambing hitam dalam setiap kekalahan tim.

“Namun, masih ada bentuk kekerasan terhadap perangkat pertandingan dari level amatir hingga tertinggi,” tegas Ogawa.

Pria kelahiran 1959 ini tak ingin hanya diam. Ia mendatangi klub-klub untuk menyamakan persepsi agar tidak terjadi gagal paham di tengah laga.

“Salah satu tujuannya, kami ingin memperdalam pemahaman klub-klub tersebut terhadap perwasitan. Dari situ kami dapat wawasan tentang bagaimana sepak bola Indonesia berjalan,” jelasnya.

“Kadang interpretasi klub berbeda dengan Laws of The Game. Kami memberi umpan balik sesuai dengan Laws of The Game,” imbuhnya.

Ada satu gebrakan menarik yang diungkapkan Ogawa. PSSI kini memiliki Refer System, sebuah aplikasi digital yang memungkinkan klub mengajukan komplain atau bertanya secara resmi dan profesional.

Fokusnya tajam pada empat aspek krusial yaitu, gol/tidak, penalti/tidak, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. “Setahu kami, hanya Indonesia yang memakai sistem ini di ASEAN. Di Asia pun hanya sedikit negara yang menggunakannya,” terangnya.

Dalam sesi media briefing yang interaktif, Ogawa memutarkan cuplikan video insiden panas dari BRI Super League dan Pegadaian Championship. Para jurnalis pun diajak berdebat: Apakah itu handsball? Layakkah kartu merah diberikan?

Ogawa mengingatkan bahwa tulisan jurnalis memiliki kekuatan besar untuk membentuk opini publik. Jika jurnalis salah memahami aturan, maka masyarakat pun akan ikut tersesat.

“Itulah mengapa teman-teman media juga memegang peranan kunci dalam sepak bola di Indonesia. Kami hadir untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang Laws of The Game agar kita bersama-sama bisa mengembangkan sepak bola Indonesia,” terang Yoshimi Ogawa.

Dukungan penuh juga datang dari akademisi. Wakil Dekan 1 FIKK Unesa, Prof. Dr. Or. Gigih Siantoro, S.Pd., M.Pd., menyatakan kesiapannya untuk terus bersinergi.

“Kami dengan senang hati mendukung agenda yang sangat positif ini. Banyak pengetahuan baru yang kami dapatkan. Unesa membuka diri apabila agenda ini akan dilaksanakan kembali,” ujar Gigih.

Senada dengan itu, Shava dari suarasurabaya.net merasa workshop ini menjadi bekal penting sebelum turun ke lapangan.

“Acara workshop ini sangat penting bagi kami untuk memperbarui wawasan seputar Laws of The Game. Ada banyak wawasan yang saya dapatkan dari penjelasan Pak Ogawa,” ungkapnya.

Tak hanya adu argumen di ruang seminar, keseruan berlanjut ke Lapangan Sepak Bola Unesa pada sore harinya. Para jurnalis berganti kostum untuk menjajal kemampuan dalam laga fun football.

Pertandingan semakin menarik dengan kehadiran marquee player seperti Sekjen PSSI Yunus Nusi dan aktor senior sekaligus tokoh bola Gusti Randa. Tim Unesa sukses mengunci kemenangan 5-2, di mana gol pembuka dilesakkan dengan cantik oleh Yunus Nusi.

“Pertandingan silaturahmi seperti ini harus sering dilakukan. Selain menjaga kesehatan, juga menjalin dan menjaga persaudaraan,” pungkas Yunus Nusi.

Melalui agenda ini, PSSI berharap sinergi antara wasit, klub, dan media dapat menciptakan ekosistem sepak bola Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bermartabat.

Rajai Nasional Tanpa Rumah Sendiri: Misi Dewanti Rumpoko Bangun Istana Loncat Indah di Jatim

0

Taktik.id – Jawa Timur boleh saja menyandang status sebagai kiblat loncat indah nasional, namun siapa sangka para atlet penguasa papan loncat ini masih harus berstatus kontraktor alias menyewa fasilitas untuk berlatih.

Kenyataan pahit inilah yang memicu Ketua Pengprov Akuatik Indonesia Jawa Timur, Dewanti Rumpoko, untuk bersuara lantang. Ia mendesak Pemerintah Provinsi Jatim segera membangun fasilitas kolam khusus loncat indah demi menjaga api prestasi yang tengah berkobar.

Dalam pembukaan Kejurprov Loncat Indah dan Renang Indah di Kolam Primalaras, Surabaya (18/4/26), Dewanti menyoroti ketimpangan popularitas antar cabang olahraga air. Selama ini, mata publik seolah hanya tertuju pada lintasan renang.

“Padahal, akuatik itu luas. Ada loncat indah, renang indah, hingga polo air yang punya potensi raksasa jika diberi wadah yang layak,” tegas Dewanti.

Kejurprov 2026 ini pun menjadi bukti nyata. Sebanyak 66 atlet muda dari 11 kabupaten/kota (mulai dari Surabaya, Malang, hingga Lumajang dan Bangkalan) turun gelanggang. Dewanti melihat ada permata tersembunyi di antara para peserta usia dini tersebut yang siap dipoles menjadi atlet kelas dunia.

Pelatih Tim Loncat Indah Jatim, Ronaldy Herbintoro, menambahkan bumbu urgensi dalam tuntutan ini. Prestasi Jatim di level nasional sebenarnya sudah berada di puncak piramida, namun dukungan infrastruktur belum setara dengan medali yang diraih.

Jika ditengok kembali, rapor mentereng Jatim di PON XXI Aceh-Sumut 2024 sebagai Juara Umum cabang olahraga Loncat Indah. Dengan koleksi: 6 Emas, 3 Perak, dan 2 Perunggu. Gladies Lariesa Garina Hagakore, sang bintang utama, menyapu bersih 5 medali emas sendirian.

“Jatim adalah barometer nasional. Tapi ironisnya, sampai detik ini kami masih harus menyewa fasilitas. Untuk pembinaan yang optimal, kita butuh kolam sendiri, bukan sekadar menumpang,” keluh Ronaldy.

Dewanti Rumpoko berharap momentum Kejurprov tahun ini, di mana seluruh disiplin akuatik akhirnya bisa dipertandingkan kembali, menjadi titik balik bagi pemerintah untuk melek infrastruktur.Targetnya jelas, Jawa Timur tidak hanya ingin melahirkan satu Gladies, tapi sebuah ekosistem atlet yang berkelanjutan.

“Kami ingin Jatim punya fasilitas akuatik yang komplet. Mulai dari kolam arus untuk renang hingga menara loncat indah yang representatif. Ini investasi, bukan sekadar pengeluaran,” pungkas Dewanti optimis.

Efisiensi Dingin Madura United Buktikan Mampu Taklukan Dominasi Persebaya

0

Taktik.id – Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) menjadi saksi bisu sebuah ironi sepak bola yang menyakitkan bagi Bonek Mania. Persebaya Surabaya tampil bak raksasa yang mengurung mangsanya, namun justru harus tersungkur dengan skor 1-2 di tangan Madura United, Jum’at (17/4) lalu.

Pertandingan ini bukan soal siapa yang paling lama memegang bola, melainkan siapa yang tahu cara menyarangkannya ke gawang. Dominasi selama 90 menit nyatanya tidak dapat membuahkan kemenangan bagi Bajol Ijo.

Secara teknis, Persebaya menang di hampir semua lini statistik, dari penguasaan bola terlihat sangat jomplang 72% untuk tim rumah sedangkan Madura United hanya 28%. Namun, di papan skor, ceritanya jauh berbeda.

Bajol Ijo tampil sangat agresif, terutama di babak kedua. Gelombang serangan terus mengalir, namun penyelesaian akhir yang buruk dan kurangnya akurasi membuat ribuan peluang tersebut menguap begitu saja.

Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia bahkan membandingkan nasib timnya dengan fenomena yang sering menimpa tim-tim raksasa di Benua Biru.

“Hal seperti ini juga terjadi pada tim-tim besar di Eropa. Mereka bisa menguasai bola dan menciptakan banyak tembakan, tetapi lawan datang satu atau dua kali ke gawang dan langsung mencetak gol. Hari ini Madura melakukan hal itu,” ungkap Tavares dengan nada getir.

Tavares mengakui bahwa dinamika permainan anak asuhnya sebenarnya sudah berkembang pesat. Namun, sepak bola adalah olahraga hasil, bukan sekadar estetika permainan. Kurangnya keberuntungan dan blok-blok krusial dari pertahanan Laskar Sape Kerrab menjadi tembok tebal yang gagal diruntuhkan.

Kekalahan di kandang sendiri ini bukan sekadar hilangnya tiga poin, melainkan sebuah alarm bahaya. Fokus Persebaya kini harus segera bergeser karena jadwal berat sudah menanti di depan mata.

Tavares kini berpacu dengan waktu bersama tim medis untuk memulihkan pilar-pilar pentingnya. Tanpa skuat yang lengkap dan perbaikan insting membunuh di depan gawang, dominasi 70 persen pun hanya akan menjadi angka kosong di atas kertas.

Misi Rebut Kembali Mahkota: Wajah Baru PGSI Jatim Targetkan Juara Umum PON 2028!

0

Taktik.id – Gairah baru menyelimuti arena gulat Jawa Timur. Estafet kepemimpinan resmi berpindah tangan kepada Ficky Erastho yang dilantik sebagai Ketua Pengprov PGSI Jatim periode 2025-2029 oleh Sekjen PP PGSI, Gusti Randa, di Surabaya pada Jumat (17/4).

Bukan sekadar seremonial, pelantikan ini membawa misi besar yaitu mengembalikan kejayaan gulat Jawa Timur di kasta tertinggi nasional. Ketua KONI Jatim, M. Nabil, yang hadir dalam acara tersebut memberikan tantangan terbuka.

Berkaca pada dominasi Jatim di PON XX Papua (Juara Umum) yang sempat sedikit meleset di PON XXI Aceh-Sumut, Nabil menegaskan bahwa target juara umum di PON NTB-NTT 2028 adalah harga mati.

“Kunci gulat Jatim selama ini adalah tradisi guyub dan solid. Dengan kepengurusan baru, saya ingin mahkota Juara Umum PON kembali ke Jawa Timur,” tegas M. Nabil.

Untuk mencapai target ambisius tersebut, KONI Jatim mendorong transformasi pola pembinaan. Nabil menekankan bahwa bakat saja tidak cukup tanpa jam terbang.

Sekjen PP PGSI, Gusti Randa, memberikan apresiasi khusus terhadap struktur organisasi PGSI Jatim yang dinilai lebih progresif dibandingkan pengurus pusat, terutama dengan adanya Komisi Disiplin.

Namun, Gusti juga memberikan catatan kritis mengenai fenomena wajah lama yang masih mendominasi podium SEA Games dan PON.

“Gulat nasional butuh darah segar. Saya sangat mendukung langkah Jatim memperbanyak kompetisi untuk memutus dominasi atlet senior oleh talenta muda,” ujarnya.

Dukungan penuh juga datang dari Kadispora Jatim, M. Hadi Wawan Guntoro. Melalui ajang Popda (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) tahun ini, pemerintah berkomitmen menjadi jembatan bagi atlet muda menuju level profesional.

Ketua terpilih, Ficky Erastho, menyadari bahwa peta kekuatan gulat di Indonesia kini semakin merata. Margin antara peraih medali emas dan posisi tanpa medali kini sangatlah tipis.

“Potensi kita melimpah. Banyak atlet muda Jatim yang sudah mulai berani ‘menggoyang’ dominasi atlet Puslatda. Kuncinya satu: pengurus harus solid menjalankan roda organisasi,” pungkas Ficky.

“El Clasico” Voli Indonesia Tersaji! Bhayangkara Presisi Segel Tiket Grand Final Kontra Lavani

0

Taktik.id – Sang juara bertahan, Jakarta Bhayangkara Presisi, sukses menunaikan tugasnya dengan gemilang. Mereka resmi mengunci satu tempat di partai puncak Grand Final Proliga 2026 setelah menumbangkan skuad muda Jakarta Garuda Jaya tiga set langsung (3-0) pada laga Final Four di GOR Jatidiri, Semarang, Jumat (17/4/2026).

Kemenangan absolut ini memastikan terciptanya duel blockbuster yang paling dinanti yaitu, Bhayangkara Presisi akan menantang rival beratnya, Jakarta LavAni Livin’ Transmedia, di GOR Amongrogo, Yogyakarta pekan depan.

Meski menang tiga set langsung, perjalanan skuad asuhan Reidel Toiran sama sekali tidak mudah, terutama saat meladeni perlawanan pantang menyerah dari para darah muda Garuda Jaya. Set Pertama Bhayangkara Tancap Gas. Mengandalkan kombinasi serangan mematikan dari Agil Angga, Arjuna Mahendra, Martin Atanasov, dan Bardia Saadat, Bhayangkara langsung mendominasi.

Meski Garuda Jaya yang dimotori Dawuda dan Fauzan Nibras mencoba membayangi, benteng kokoh Bhayangkara sukses menutup set ini dengan skor 25-20.

Di sinilah ketegangan memuncak! Pelatih Garuda Jaya, Nur Widayanto, menginstruksikan anak asuhnya tampil lebih agresif. Hasilnya? Bhayangkara yang banyak menurunkan pemain pelapis dibuat kewalahan.

Sempat tertinggal 23-24, mental baja skuad Garuda Jaya memaksa terjadinya dua kali deuce. Sayangnya, jam terbang berbicara. Kematangan eksekusi Bhayangkara memutus asa Garuda Jaya di angka 27-25.

Tak ingin kecolongan, Bhayangkara Presisi melesat dengan keunggulan cepat 5-0 di awal set. Meski Garuda Jaya sempat menempel ketat di angka 12-14, disiplinnya pertahanan sang juara bertahan membuat mereka terus memimpin hingga mengunci kemenangan di skor 25-19.

Bagi pelatih Bhayangkara Presisi, Reidel Toiran, kemenangan ini adalah bukti kematangan mental anak asuhnya.

“Saya puas karena tim bermain sesuai instruksi. Meski sempat ditekan hebat di set kedua, anak-anak tetap tenang dan mampu membalikkan keadaan,” puji Toiran.

Menatap sisa satu laga tak menentukan melawan LavAni di hari Minggu (19/4/2026), Toiran mengisyaratkan taktik “simpan tenaga”. Ia akan melakukan rotasi pemain guna memberikan jam terbang bagi punggawa muda sekaligus menjaga kondisi fisik pilar utama jelang laga hidup-mati di Grand Final.

Ambisi besar juga disuarakan oleh Setter andalan Bhayangkara Presisi, Alvin Daniel. “Lega rasanya bisa menang hari ini. Fokus kami sekarang adalah mempertahankan gelar dan menciptakan hattrick juara!” tegasnya.

Di kubu seberang, kekalahan ini menjadi PR besar bagi jajaran pelatih Jakarta Garuda Jaya. Pelatih Nur Widayanto menilai kegagalan anak asuhnya menembus pertahanan lawan bukan karena faktor kelelahan, melainkan masalah koordinasi.

“Kondisi fisik anak-anak sebenarnya prima. Kami sering tertinggal poin karena koordinasi yang belum padu di lapangan. Ini pelajaran berharga bagi pemain muda kami,” ungkap Nur.

Meski gagal melaju ke partai puncak, semangat skuad Garuda Jaya belum padam. Bintang muda mereka, Dawuda Alahiwassalam, memastikan timnya akan langsung move on dan menargetkan kemenangan di perebutan tempat ketiga.

“Kami akan habis-habisan (fight) melawan Samator. Kami ingin menutup musim ini dengan kepala tegak!” pungkas Dawuda penuh semangat.

Ujian di Ibu Kota! Unggul FC Malang Siap Jegal Dua Raksasa Pro Futsal League

0

Taktik.id – Akhir pekan ini GOR Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dipastikan akan memanas! Unggul FC Malang bakal melakoni misi super berat pada Pekan ke-9 Pro Futsal League 2025-2026. Berangkat ke Series Jakarta, skuad kebanggaan arek-arek Malang ini harus siap melewati “Ujian Neraka” menghadapi dua raksasa futsal Tanah Air.

Meski datang menantang maut di kandang lawan, pasukan asuhan Andre Brocanelo ini pantang pulang sebelum bertempur. Mentalitas baja sudah disiapkan untuk meladeni tuan rumah yang kini bertengger di peringkat empat, Cosmo JNE Jakarta, dan disusul duel sengit melawan sang penghuni posisi ketiga, Blacksteel Papua.

Berikut jadwal duel panas Unggul FC di Series Jakarta: Sabtu, 18 April melawan Cosmo JNE Jakarta. Besoknya langsung berhadapan dengan Blacksteel Papua.

Menghadapi dua tim bertabur bintang tentu butuh persiapan ekstra. Asisten Pelatih Unggul FC, Agus Abdulrachman, membeberkan bahwa jeda internasional selama dua pekan telah dimanfaatkan habis-habisan sebagai masa tapa brata yang krusial bagi timnya.

Alih-alih bersantai, Unggul FC justru menggembleng diri lewat rentetan laga uji coba melawan Bintang Timur Surabaya dan Hampton FC di Unggul Sport Center (USC) Malang demi meracik strategi penawar racun bagi dua lawan mereka di Jakarta.

“Cosmo dan Blacksteel adalah tim berpengalaman dengan kolektivitas serta kualitas individu yang luar biasa. Tapi, pemain kami sudah bersiap. Kami sudah menggembleng mental, taktik, dan teknik. Kami tahu bagaimana cara membangun momentum dan mencuri peluang dari mereka,” tegas Agus.

Di tengah bayang-bayang ancaman dua tim kuat, angin segar justru berhembus kencang di kubu Unggul FC. Mereka baru saja mendapatkan suntikan amunisi masif dengan kembalinya dua pilar utama yang baru saja membela panji Timnas Futsal Indonesia.

Siapa lagi kalau bukan Angga Ariansyah, sang tembok kokoh di bawah mistar gawang, dan Andres Dwi Persada, mesin gol mematikan yang saat ini memegang status sebagai top skor sementara liga!

Keduanya pulang dengan kepala tegak dan aura pemenang setelah sukses mengantarkan Skuad Garuda menjadi runner-up di ajang bergengsi Piala AFF Futsal 2026 di Thailand. Kehadiran mereka dipastikan akan membuat barisan pertahanan lawan harus bekerja ekstra keras.

“Sama seperti pemain lain yang dari Timnas, Angga dan Andres sudah kembali berlatih bersama kami. Seluruh pemain dalam kondisi siap tempur. Kami sangat antusias melihat perkembangan dan kesiapan mereka di lapangan nanti,” pungkas Agus.

Mampukah racikan strategi Andre Brocanelo dan magis duo Timnas membawa Unggul FC Malang menjegal dua raksasa di Ibu Kota? Mari kita nantikan kejutan arek-arek Malang akhir pekan ini!