TAKTIK.ID – Muhammad Rafi Wibisono membawa gagasan pembaruan dalam bursa kepemimpinan KONI Kabupaten Sidoarjo periode 2026–2029. Dengan dukungan dari 36 cabang olahraga (cabor), Rafi mengusung visi olahraga modern yang tidak hanya mengejar prestasi dan medali, tetapi juga menempatkan pendidikan serta kesejahteraan atlet sebagai bagian penting dari sistem pembinaan.
Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Sidoarjo dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026, pukul 13.00 WIB hingga selesai, di Ruang Konferensi Pers Stadion Gelora Delta Sidoarjo.
Dari 54 cabor yang memiliki hak suara, Muhammad Rafi Wibisono mendapat dukungan dari 36 cabor. Sementara kandidat lainnya, Siswaji, memperoleh dukungan dari 21 cabor. Meski demikian, keputusan akhir mengenai siapa yang akan memimpin KONI Sidoarjo tetap ditentukan melalui mekanisme Musorkablub.
Bagi Rafi, keberhasilan olahraga sebuah daerah tidak boleh hanya diukur dari jumlah medali yang berhasil dikumpulkan. Ada persoalan lain yang menurutnya tak kalah penting, yakni masa depan atlet setelah karier kompetitif mereka berakhir.
“Yang kita pikirkan ke depan tentunya kesejahteraan Salah satunva terkait penyediaan beasiswa. Atlet angan hanya memikirkan olahraga, tetapi juga harus dibekali pendidikan,” ujar Rafi
Beasiswa untuk Atlet Jadi Salah Satu Gagasan Utama
Penyediaan beasiswa menjadi salah satu gagasan yang ingin didorong Rafi jika mendapat amanah memimpin KONI Kabupaten Sidoarjo. Menurutnya, akses pendidikan bagi atlet tidak seharusnya berhenti di jenjang SD, SMP, dan SMA, tetapi perlu membuka peluang hingga perguruan tinggi.
Gagasan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa karier seorang atlet memiliki batas. Faktor usia, cedera, regenerasi, hingga ketatnya persaingan bisa membuat seorang atlet memasuki fase ketika tidak lagi aktif bertanding.
Karena itu, pendidikan dinilai menjadi bekal penting untuk memastikan atlet tetap memiliki masa depan yang jelas setelah meninggalkan arena kompetisi.
“Kalau hanya memikirkan olahraga dan atlet, tetapi tidak memikirkan pendidikan, generasi masa depan kita mau dibawa ke mana? Jangan sampai setelah tidak lagi menjadi atlet justru kehilangan masa depan,” tegasnya.
Bagi Rafi, kesejahteraan atlet bukan hanya soal penghargaan setelah berhasil meraih prestasi. Lebih dari itu, kesejahteraan harus mulai dibangun sejak proses pembinaan melalui akses pendidikan, pengembangan kemampuan, serta peluang untuk menata masa depan.
Cabor Harus Jadi Mitra Utama KONI Sidoarjo
Selain memberi perhatian terhadap masa depan atlet, Rafi juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara KONI dan seluruh cabang olahraga di Sidoarjo.
Menurutnya, prestasi daerah tidak mungkin dibangun oleh satu organisasi saja. KONI harus menjadi rumah bersama yang mampu mendengar kebutuhan cabor, memperkuat sistem pembinaan, dan membuka ruang kolaborasi.
Dalam pandangan Rafi, pembangunan olahraga modern juga tidak cukup hanya mengandalkan bakat atlet dan semangat bertanding. Untuk mencetak prestasi berkelanjutan, dibutuhkan ekosistem yang kuat, mulai dari pelatih, klub, penerapan sport science, nutrisi, teknologi, pemulihan fisik, hingga tata kelola organisasi yang profesional.
Dengan pendekatan tersebut, setiap cabor diharapkan tidak sekadar menjadi bagian dari struktur organisasi, tetapi menjadi mitra utama dalam menentukan arah pembinaan dan kemajuan olahraga Sidoarjo.
Energi Muda untuk Masa Depan Olahraga Sidoarjo
Di usia yang relatif muda, Muhammad Rafi Wibisono membawa energi baru dalam kontestasi menuju kursi Ketua KONI Sidoarjo. Visi yang ditawarkannya mencoba menghubungkan empat elemen penting, yakni prestasi, pendidikan, kesejahteraan atlet, dan penguatan cabor.
Jika mendapat amanah memimpin KONI Sidoarjo periode 2026–2029, Rafi ingin memastikan para atlet tidak hanya berjuang untuk naik ke podium, tetapi juga memiliki kepastian untuk melanjutkan pendidikan dan menata kehidupan setelah karier kompetitif berakhir.
Bagi Rafi, deretan piala dan medali memang menjadi simbol keberhasilan. Namun, kejayaan olahraga sebuah daerah sejatinya juga dapat diukur dari sejauh mana sistem yang dibangun mampu menjaga dan menyiapkan masa depan para atlet yang berjuang di balik setiap prestasi.