TAKTIK.ID – Harapan Jawa Timur untuk kembali berjaya di cabang olahraga renang pada PON 2028 mendapat tantangan serius. Hingga kini, renovasi Kolam Renang Kertajaya Surabaya belum juga rampung meski telah berlangsung hampir dua tahun. Kondisi tersebut membuat program latihan atlet tidak berjalan maksimal.
Pelatih Renang Jawa Timur, Mochammad Umam, menilai lambatnya penyelesaian fasilitas yang dikelola Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Timur itu berdampak langsung terhadap persiapan atlet yang diproyeksikan tampil pada PON 2028 di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menurut Umam, program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Mandiri terpaksa dijalankan secara terpisah karena para atlet harus berlatih di sejumlah kolam berbeda bersama klub masing-masing.
“Dampaknya sangat terasa. Atlet tidak lagi berlatih dalam satu sistem. Ada yang latihan di Kolam Renang Arhanud, Kolam Renang Delta Sidoarjo, hingga Kolam Renang Saigon di Pasuruan bersama klub masing-masing. Karena terpisah, kami kesulitan memonitoring aktivitas mereka,” ujar Umam di Surabaya, Jumat (31/7/2026).
Saat ini terdapat 13 atlet yang masuk program Puslatda Mandiri. Sembilan di antaranya berdomisili di Jawa Timur dan seharusnya dapat menjalani latihan bersama di Kolam Renang Kertajaya apabila renovasi telah selesai.
Bagi Umam, latihan terpusat bukan sekadar mengumpulkan atlet di satu tempat. Kehadiran fasilitas yang memadai akan memudahkan pelatih menyamakan program latihan, melakukan evaluasi, hingga memantau perkembangan atlet secara menyeluruh.
“Kalau di Kertajaya, anak-anak bisa latihan bareng, nge-gym bareng dan fokus. Setiap saat kami juga bisa melakukan evaluasi untuk memaksimalkan potensi atlet,” katanya.
Tak hanya lokasi latihan yang menjadi persoalan. Umam mengungkapkan sebagian besar kolam yang saat ini digunakan belum memenuhi standar pertandingan. Mulai dari lintasan yang belum mampu memecah gelombang, ketiadaan start block, hingga ukuran kolam yang belum sesuai standar internasional.
Dampaknya terlihat dari performa atlet, Umam menyebut banyak perenang Jawa Timur gagal mencatatkan waktu terbaik pada Kejuaraan Nasional Mei 2026 akibat keterbatasan fasilitas latihan.
“Keterbatasan semua fasilitas itu sangat memengaruhi performa atlet, terutama catatan waktu terbaiknya. Hal itu bisa dilihat dari hasil Kejurnas pada Mei 2026 lalu, di mana banyak atlet kita, khususnya yang berdomisili di Jatim, tidak bisa mencapai best time-nya,” ungkapnya.
Di sisi lain, Pengprov Akuatik Jawa Timur juga harus mengeluarkan biaya besar untuk menyewa kolam renang berstandar demi menggelar latihan bersama. Keterbatasan anggaran membuat sesi latihan terpusat hanya bisa dilakukan satu hingga dua bulan sekali.
“Kami bisa latihan bersama sebulan atau dua bulan sekali di Kolam Renang Saigon, Pasuruan. Ini karena keterbatasan dana yang kami miliki. Ini masalah serius yang tidak bisa kami atasi sampai detik ini,” tutur Umam.
Meski mendapat informasi bahwa renovasi Kolam Renang Kertajaya ditargetkan selesai dan mulai digunakan pada Agustus 2026, Umam menilai waktu persiapan menuju PON 2028 semakin sempit. Ia khawatir keterlambatan tersebut akan menyulitkan atlet untuk mengejar peningkatan performa.
“Untuk meningkatkan catatan waktu itu tidak instan. Jadi sulit bagi anak-anak. Jangankan melebihi raihan medali PON kemarin, menyamai saja susah,” tegasnya.
Pada PON Aceh-Sumut 2024, cabang olahraga akuatik menjadi salah satu andalan Jawa Timur dengan menyumbangkan 11 medali emas, terdiri atas enam emas dari nomor renang dan loncat indah serta lima emas dari nomor renang perairan terbuka.
Dengan waktu yang terus berjalan menuju PON 2028, rampungnya renovasi Kolam Renang Kertajaya menjadi kebutuhan mendesak agar pembinaan atlet kembali berjalan optimal dan peluang mempertahankan prestasi tetap terjaga.