TAKTIK.ID – Dominasi tak terbantahkan sedang dipertontonkan oleh Persebaya Surabaya. Menjelang usia satu abad, klub kebanggaan Bonek ini tidak sekadar berpuas diri dengan kejayaan tim seniornya.
Mereka baru saja mengirimkan sinyal bahaya bagi persepakbolaan nasional: sebuah cetak biru pembinaan usia dini yang membuahkan hasil mutlak dengan menyapu bersih tiga gelar kompetisi kelompok umur Asprov PSSI Jawa Timur 2026.
Kejayaan di level junior ini seolah menjadi pelengkap sempurna dari dahaga prestasi yang baru saja dituntaskan oleh skuad utama. Sebelumnya, tim senior Green Force sukses mengakhiri penantian panjang dengan mengangkat trofi bergengsi Piala Presiden 2026.
Alih-alih berhenti pada selebrasi tim utama, mentalitas juara tersebut langsung menular tanpa ampun ke level akar rumput. Akhir pekan lalu menjadi saksi bisu bagaimana talenta-talenta muda “Bajol Ijo” mengunci tiga takhta sekaligus di dua kota berbeda.
Rangkaian sapu bersih ini diinisiasi di Stadion Brawijaya, Kediri, pada Sabtu (12/9/2026). Tim Persebaya U-17 tampil garang dan sukses mengandaskan perlawanan Inter Kediri U-17 dengan skor meyakinkan 3-1.
Gelombang kemenangan itu berlanjut keesokan harinya, Minggu (13/9/2026), di mana Stadion Jember Sport Garden menjadi saksi pesta dua adik tingkat mereka. Pasukan Persebaya U-15 tampil gemilang menaklukkan Deltras U-15 lewat keunggulan 2-0.
Pesta tersebut akhirnya disempurnakan oleh kelompok umur termuda, Persebaya U-13, yang menundukkan Persida U-13 dengan skor tipis 1-0. Tiga final, tiga kemenangan telak.
Empat trofi, Piala Presiden dan trigelar dari U-13, U-15, serta U-17 kini berdiri sejajar membentuk satu narasi besar. Kesuksesan ini membuktikan bahwa manajemen Persebaya tidak hanya sekadar mengumbar janji pembinaan, melainkan benar-benar membangun fondasi kekuatan yang berkesinambungan. Panggung besar tidak lagi memonopoli gemerlap tim senior, masa depan Green Force kini ikut menunjukkan taringnya.
Kado menjelang usia 100 tahun ini tentu terasa sangat istimewa. Bukan berupa seremoni mewah, melainkan hasil keringat dari kaki-kaki muda yang berlari, bertarung, dan mencetak gol di lapangan hijau.
Angka 100 tahun memang belum sepenuhnya tiba, tetapi pesta sudah lebih dahulu dinyalakan dari Jember hingga Kediri. Jika sapu bersih ini hanyalah sebuah pemanasan menuju satu abad, maka pesan dari lapangan cukup jelas: Persebaya tidak sedang menunggu masa depan, mereka sedang menyiapkannya.

