Taktik.id – Kejurprov Panjat Tebing Jawa Timur 2026 bukan hanya soal perebutan podium juara. Ajang ini mulai diposisikan sebagai “mesin pencetak” atlet masa depan yang diproyeksikan menjaga kejayaan Jawa Timur di kancah nasional hingga persiapan menuju PON 2028.
Sebanyak 294 atlet dari 30 kabupaten/kota ikut ambil bagian dalam kompetisi yang mempertandingkan kelompok umur KU-9, KU-11, KU-13, KU-15, KU-17, hingga KU-19 tersebut. Kehadiran ratusan atlet muda itu menjadi sinyal kuat bahwa regenerasi panjat tebing Jatim terus berjalan.
Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jawa Timur, Henky Irawan, menegaskan Kejurprov memiliki peran penting dalam proses pencarian bibit atlet potensial.
“Dari Kejurprov ini diharapkan bisa mengirimkan atlet-atlet Jawa Timur ke Kejurnas dan meraih prestasi sebanyak-banyaknya,” ujarnya.

Menurut Henky, mempertahankan dominasi Jawa Timur di cabang panjat tebing membutuhkan pembinaan jangka panjang. Karena itu, kompetisi usia muda terus diperbanyak agar atlet memiliki pengalaman bertanding yang matang sejak dini.
“Kami ingin semakin banyak event agar atlet punya jam terbang dan pengalaman bertanding,” katanya.
Langkah tersebut dinilai penting karena persaingan panjat tebing nasional semakin ketat. Jawa Timur yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama nasional mulai mendapat tantangan serius dari berbagai daerah.
Meski demikian, Henky tetap optimistis Jatim mampu menjaga tradisi prestasi dengan dukungan pembinaan yang konsisten dari KONI Jatim dan Dispora.
“Kami optimistis tetap mempertahankan posisi juara umum di Kejurnas,” tegasnya.
Ajang ini sekaligus menjadi sarana evaluasi kemampuan atlet muda sebelum melangkah ke level lebih tinggi. Total peserta terdiri atas 160 atlet putra dan 130 atlet putri dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Tak hanya itu, Kejurprov Panjat Tebing Jawa Timur 2026 juga dijadikan ajang seleksi menuju Kejuaraan Nasional Kelompok Umur di Jakarta. Seluruh peserta pun dituntut tampil maksimal sambil tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Ketua Umum KONI Jatim, M Nabil, menyebut panjat tebing merupakan olahraga yang membutuhkan perpaduan teknik, kekuatan fisik, dan mental kompetitif.
“Semakin banyak mengikuti event, refleks ketika bertanding semakin tinggi. Skill kuat, power aman, dan mental bertanding juga terbentuk,” ujarnya.
Ia menilai pembinaan yang dilakukan FPTI Jatim sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ancaman dari provinsi lain tidak bisa dianggap remeh.
“Daerah lain tentu ingin mengambil alih posisi juara umum. Karena itu pembinaan harus dipertahankan bahkan ditingkatkan,” katanya.
Nabil menyebut Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Jawa Barat masih menjadi rival utama dalam perebutan prestasi nasional cabang panjat tebing.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur, M Hadi Wawan, mengaku antusias melihat tingginya partisipasi atlet usia dini dalam kejuaraan tersebut.
“Tadi ada peserta usia tujuh tahun. Ini potensi luar biasa. Saat memasuki usia emas nanti, kita berharap mereka bisa menjadi atlet terbaik untuk Jawa Timur,” ujarnya.
Pada Kejurprov Panjat Tebing Jawa Timur 2026, nomor yang dipertandingkan meliputi lead, speed world record, dan boulder. Untuk kategori KU-9 hingga KU-15 hanya bertanding di nomor speed world record, sedangkan KU-17 sampai KU-19 mengikuti seluruh nomor pertandingan.
Ketua Harian FPTI Jawa Timur, Dhanu Iswara, menilai kejuaraan ini menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi lahirnya atlet panjat tebing berprestasi dari Jawa Timur.
Dengan pembinaan usia dini yang terus diperkuat dan frekuensi kompetisi yang semakin tinggi, Jawa Timur berharap tetap menjadi salah satu kekuatan utama panjat tebing nasional menuju PON 2028.