Taktik.id – Jawa Pos Arena menjadi saksi bisu betapa “dinginnya” mental sang juara bertahan. Dalam laga pembuka Final Four Proliga 2026, Kamis (2/4/2026), Jakarta Bhayangkara Presisi sukses menjinakkan perlawanan Surabaya Samator dengan kemenangan telak 3-0 (26-24, 25-16, 25-16).
Meskipun skor terlihat timpang, pertandingan ini menyuguhkan drama comeback dan adu taktik yang membuat penonton tuan rumah sempat menahan napas.
Surabaya Samator sebenarnya nyaris mencuri momentum pada jalannya set pertama. Dimotori oleh Lyvan Taboada dan Rama Fauzan, Samator sempat unggul di titik kritis 24-23.

Namun, di sinilah kelas berbicara, ​alih-alih panik, Nizar Zulfikar dengan tenang mengatur serangan balik kilat yang mengeksekusi pertahanan Samator. Bhayangkara membalikkan keadaan menjadi 26-24.
Kekalahan di set pertama ini tampaknya menjadi hantaman mental yang berat bagi skuad asuhan Rodolfo Sanchez. Terbukti di set kedua dan ketiga tim asal Surabaya ini semakin terpuruk dengan skor poin 25-16 dan 25-16.
Salah satu daya tarik utama laga ini adalah debut impresif duet asing baru Bhayangkara yaitu, Martin Atanasov dan Bardia Saadat. Setelah sempat dipantau ketat di awal laga, keduanya mulai menunjukkan kelas dunia mereka di set kedua dan ketiga.

Bardia Saadat menjadi mesin poin melalui spike keras yang sulit dibendung. para pemain Samator. Sedangkan ​Martin Atanasov mampu memberikan keseimbangan di lini serang dan pertahanan bagi sang juara bertahan.
“Pemain asing kami hari ini sudah mulai beradaptasi, sehingga komunikasi di lapangan jauh lebih cair,” ujar Rendy Tamamilang usai laga.
Manajer Samator, Hadi Sampurno, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya meski sempat bangga dengan perlawanan di set pertama. Senada dengan sang manajer, middle blocker Tedi Oka Syahputra mengakui bahwa musuh terbesar mereka hari ini adalah diri sendiri.
“Kami banyak melakukan kesalahan sendiri yang menguntungkan bagi tim lawan,” ungkapnya dengan jujur.
Di sisi lain, meski menang telak, pelatih Bhayangkara Reidel Toiran tetap menunjukkan wajah serius. Ia menuntut performa yang lebih mengerikan dari pemain asingnya di laga berikutnya.
“Evaluasi tetap ada. Kami ingin pemain asing bisa tampil lebih maksimal lagi,” tegas pria asal Kuba tersebut.
Kemenangan ini menjadi modal krusial bagi Bhayangkara Presisi untuk mengamankan tiket Grand Final. Bagi Surabaya Samator, kekalahan di kandang ini adalah alarm keras untuk segera membenahi koordinasi tim jika tidak ingin terlempar lebih awal dari persaingan Final Four.

