BerandaSepak BolaLiga IndonesiaBalada "Setengah Babak" Arema FC yang Terlambat Panas

Balada “Setengah Babak” Arema FC yang Terlambat Panas

Taktik.id – Ada sebuah garis tipis antara kelelahan mental dan kegagalan taktik. Bagi Arema FC, kekalahan 3-2 dari Persik Kediri di Stadion Gelora Joko Samudro, Minggu (3/5), menjadi bukti sahih betapa “hantu” masa lalu bisa melumpuhkan kaki-kaki pemain di atas lapangan.

Singo Edan seolah tidak hadir di babak pertama. Mereka membiarkan tuan rumah mendikte permainan hingga tertinggal tiga gol tanpa balas sebelum turun minum. Pelatih Arema FC, Marcos Santos, mencium ada yang tidak beres dengan mentalitas anak asuhnya yang seolah belum selesai dengan urusan di laga sebelumnya.

“Sepertinya babak kedua dari laga klasik (derbi) sebelumnya belum berakhir. Kami memasuki pertandingan ini dengan postur dan sikap yang sama seperti saat kami memasuki jeda pertandingan terakhir,” ujar pelatih asal Brasil itu dengan nada kecewa.

Sadar bahwa timnya sedang menuju kehancuran, Marcos Santos mengambil langkah ekstrem di ruang ganti saat jeda antarpemain. Tidak ada lagi instruksi halus, yang ada hanyalah tuntutan harga diri.

“Dan di jeda pertandingan kami kali ini, saya harus menuntut para pemain untuk memberikan reaksi agar mereka bisa benar-benar masuk ke dalam permainan, karena jika tidak, kami akan kembali menanggung malu seperti pertandingan terakhir,” imbuhnya.

Hasilnya? Arema FC bertransformasi menjadi tim yang berbeda di babak kedua. Intensitas meningkat, keberanian muncul, dan lini belakang Persik mulai dipaksa bekerja ekstra keras. Namun, tembok pertahanan Persik sangat kokoh, membuat gol yang dinanti baru pecah di menit ke-86 melalui aksi Alberto.

Drama mencapai puncaknya di menit akhir saat sundulan Wallison Maia menggetarkan jala lawan. Meski sempat dianulir, teknologi VAR akhirnya mengesahkan gol tersebut.

Sayangnya, napas Arema FC habis di sisa waktu yang sempit. Dua gol tersebut hanya menjadi penghibur di tengah hasil yang pahit.

Salah satu pemain asal Brasil di skuat Arema mengakui bahwa terapi kejutan dari sang pelatih adalah satu-satunya alasan mereka mampu memberikan perlawanan di penghujung laga.

“Jadi pertandingan tadi itu seperti babak kedua lawan Persebaya, seperti kita bawa ke sini. Jadi pemain babak pertama belum siap. Jadi saat ruang ganti untuk masuk babak kedua, Coach panggil marah,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tanpa amarah tersebut, Arema mungkin akan hancur lebih dalam. “Karena kalau nggak marah kita pasti malu hari ini juga. Jadi dari situ mungkin motivasi itu coba cari tiga gol di babak kedua,” imbuhnya.

Kekalahan ini memaksa Singo Edan harus rela turun ke posisi ke-10 klasemen sementara BRI Super League 2025/26 dengan koleksi 39 poin. Sebuah alarm keras bagi tim kebanggaan Malang ini bahwa talenta saja tidak cukup tanpa kesiapan mental sejak peluit pertama dibunyikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read