Taktik.id – Skor telak 4-0 atas PSBS Biak di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (2/5) lalu, mungkin menjadi tajuk utama di berbagai media. Namun, di balik gemuruh suara penonton yang hadir di stadion, ada sebuah cerita tentang bagaimana sepak bola tetap “terlihat” indah meski dalam kegelapan.
Dewa, serta kakak beradik Brian dan Ade, membuktikan bahwa loyalitas kepada Persebaya tidak butuh retina yang berfungsi sempurna, cukup hati yang menyala. Bagi ketiga Bonek tunanetra ini, kunjungan perdana mereka ke stadion bukan tentang melihat visual, melainkan merasakan energi.
Bagi banyak orang, sepak bola adalah olahraga visual. Namun bagi Dewa dan rekan-rekannya, setiap operan dan tekel diubah menjadi gelombang suara yang mereka susun menjadi sebuah narasi.Dewa menjelaskan bagaimana ia tetap bisa “menonton” pertandingan dengan caranya sendiri.
“Kami menikmati pertandingan dari suara komentator. Dari situ kami bisa memahami jalannya permainan dan membayangkan apa yang terjadi di lapangan,” ujarnya.
Tidak hanya mengandalkan suara komentator, penguasaan mereka terhadap profil tim menjadi kunci untuk membangun visualisasi di dalam benak.
“Kalau sudah hafal nama-nama pemain, kami bisa tahu siapa yang menguasai bola. Dari situ kami membangun gambaran sendiri di pikiran, seperti menonton dengan cara kami,” tuturnya.
Kemenangan besar Bajol Ijo sore itu memang manis, tapi bagi mereka, momen yang paling membekas bukanlah saat gol tercipta, melainkan saat seluruh stadion bersatu dalam harmoni.
Sepak bola bagi Dewa bukan sekadar statistik, melainkan tentang keterlibatan emosional yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Ia mengenang momen magis saat anthem kebanggaan dikumandangkan.
“Senang sekali bisa jadi bagian dari suporter di stadion. Saya suka suasananya, apalagi saat semua menyanyikan Song for Pride bersama. Rasanya merinding,” katanya.
Kehadiran Dewa, Brian, dan Ade di tribun menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sepak bola adalah ruang inklusif. Stadion harus menjadi tempat yang ramah bagi siapapun, tanpa memandang keterbatasan fisik.
Pada akhirnya, di tengah riuhnya GBT, mereka tidak hanya sekadar hadir. Mereka merasakan detak jantung klub kebanggaan mereka melalui getaran tribun dan suara ribuan orang. Karena bagi Bonek sejati, Persebaya bukan hanya tentang apa yang dilihat, tapi tentang apa yang dirasakan.