Taktik.id – Persebaya Surabaya tengah menunjukkan fenomena langka di Super League 2025/26. Bukan hanya soal tajamnya lini serang, namun keberhasilan mereka membangun “tembok” yang mustahil ditembus. Dalam 270 menit terakhir, gawang Bajol Ijo tetap suci berkat catatan tiga clean sheet beruntun yang impresif.
Korban ketangguhan lini belakang ini tidak main-main. Mulai dari Malut United yang ditekuk 0-2, rival abadi Arema FC yang dibungkam 0-4, hingga PSBS Biak yang digulung 4-0. Di balik dominasi skor tersebut, ada dua sosok sentral yang menjadi arsitek utama di jantung pertahanan, Gustavo Fernandes dan Risto Mitrevski.
Meski performa duet ini mengundang decak kagum, Gustavo Fernandes tetap membumi. Bek berusia 26 tahun asal Brasil ini menegaskan bahwa kesucian gawang Persebaya adalah hasil dari sinkronisasi seluruh lini, bukan hanya aksi heroik individu di area penalti.
“Menurut saya, kunci utamanya adalah kerja sama tim. Semua dimulai dari lini depan hingga belakang. Ketika lini tengah melakukan pressing dengan baik dan penyerang ikut membantu menutup ruang, kami di belakang tidak terlalu banyak menghadapi situasi berbahaya,” ujarnya.

Gustavo menambahkan bahwa kunci untuk tetap “perawan” di bawah mistar gawang adalah disiplin baja yang tidak boleh kendor sedetik pun.
“Yang terpenting adalah menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan, membaca permainan lawan, serta disiplin dalam duel dan penempatan posisi,” tambahnya.
Senada dengan rekannya, Risto Mitrevski menolak anggapan adanya “ramuan ajaib” di balik kokohnya pertahanan mereka. Baginya, sepak bola adalah tentang tanggung jawab bersama yang dipikul oleh sebelas pemain di lapangan.
“Tidak ada rahasia khusus. Ini hasil dari kerja keras, dedikasi, dan permainan kolektif. Clean sheet adalah tanggung jawab semua pemain di lapangan,” tegas Risto.
Menariknya, duet ini sebenarnya masih tergolong baru. Pelatih Bernardo Tavares pertama kali menyatukan mereka pada pekan ke-28 saat melawan Madura United. Meski sempat menelan kekalahan di awal eksperimen tersebut, Tavares jeli melihat adanya potensi besar dalam kombinasi fisik dan visi keduanya.
Seiring berjalannya waktu, Gustavo mengakui bahwa ia dan Risto kini seolah memiliki “radar” yang saling terhubung satu sama lain.
“Kerja sama kami semakin baik. Di lapangan kami terus berkomunikasi untuk menjaga posisi dan membaca situasi,” ungkap Gustavo.
Risto pun mengamini hal tersebut. Baginya, kedekatan emosional dan komunikasi aktif adalah fondasi yang membuat organisasi pertahanan Persebaya kini lebih rapi dan sulit dieksploitasi lawan.
“Saya rasa chemistry kami sangat baik, dan itu terlihat dari hasil di lapangan. Yang penting adalah membangun koneksi dengan rekan setim, terutama dengan pemain di posisi terdekat,” jelas bek jangkung tersebut.

Bagi mereka, suara di lapangan adalah senjata tambahan. Tanpa komunikasi, semua taktik akan sia-sia. “Komunikasi sangat penting, baik untuk mengatur posisi, melakukan cover, maupun menjaga organisasi pertahanan. Dengan itu, pengambilan keputusan bisa dilakukan lebih cepat,” tutup Gustavo.
Rentetan hasil sempurna ini akan menghadapi ujian sesungguhnya pada pekan ke-32. Duet “tembok” Gustavo-Risto dijadwalkan mengawal pertahanan Persebaya saat bertandang ke markas Persis Solo di Stadion Manahan, Sabtu (9/5).