Taktik.id – Kabupaten Kediri sedang tidak bercanda. Ambisi besar untuk mengguncang peta kekuatan olahraga Jawa Timur pada Porprov X 2027 resmi dicanangkan. Bukan sekadar ikut serta, Bumi Panjalu kini membidik posisi lima besar.
Dalam suasana hangat Halal Bihalal di Kebun Belimbing Turus, Minggu (12/4/2026), agenda silaturahmi ini berubah menjadi ruang tunggu strategi besar. Dewan Penasehat KONI Kabupaten Kediri, Dr. Mokhamat Muhsin, M.Pd., menegaskan bahwa potensi besar dari 26 kecamatan harus dikelola dengan mentalitas juara.
“Tentu hari ini bagian dari ikhtiar untuk bersilaturahmi dengan para pengurus cabor, saling mengenal. Barangkali nanti dalam percakapan-percakapan akan ada diskusi-diskusi terkait dengan para atlet kita, yang mana saya memiliki keyakinan penuh melihat potensi penduduk kita yang besar dari 26 kecamatan ini,” ujar Muhsin.
Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah fenomena “bajak-membajak” atlet. Muhsin memberikan peringatan keras kepada seluruh pengurus cabang olahraga (cabor) agar tidak membiarkan aset emas daerah hijrah ke wilayah lain hanya demi janji manis sesaat.
Pemerintah daerah tidak tinggal diam, skema proteksi disiapkan mulai dari payung hukum kompensasi hingga suntikan dana prestasi yang fantastis.
“Pokoke pesene: Ojok gampang ngeculne atlet, wes! Apalagi atlet yang berpeluang mendulang medali. Hanya dengan iming-iming gitu ya. Kalau kita kan juga bukan sekadar iming-iming ya, kita fakta gitu ya. Ada uang pembinaan, ada beasiswa prestasi sekitar Rp400 juta untuk atlet-atlet yang berprestasi,” tegas pria yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Kediri totalitas dalam memberikan dukungan. Tidak hanya sekadar retorika, ada tiga pilar utama yang sedang dibangun:
- Transformasi Birokrasi: Pembentukan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) secara mandiri pada 2027.
- Infrastruktur Masif: Kelanjutan proyek GOR Totok Kerot yang diproyeksikan menjadi fasilitas olahraga kelas wahid.
- Lonjakan Anggaran: Kenaikan dana hibah hingga ratusan persen sebagai bahan bakar prestasi.
Namun, ambisi besar harus dibarengi dengan data yang jujur. Ketua Umum KONI Kabupaten Kediri, Hakim Rahmadsyah Parnata, memberikan rapor merah pada efektivitas pengiriman atlet di tahun sebelumnya. Mengirim banyak orang bukan jaminan membawa banyak pulang medali.
“Sekilas evaluasi dari kemarin tahun 2025, kita memberangkatkan kurang lebih sekitar 500 atlet. Dari hitungan 500 atlet, diperoleh medali kurang lebih hanya 100 atlet yang mendapatkan medali, baik itu secara beregu,” ungkap Hakim blak-blakan.
Ke depan, KONI akan lebih selektif. Fokusnya bukan lagi soal kuantitas, melainkan kualitas “pembunuh” di lapangan pertandingan.
“Berarti dari atlet yang kita kirimkan hanya 20% atlet yang berpotensi untuk mendapatkan medali. Sehingga ini menjadi dasar evaluasi kita untuk 2027 setidaknya minim 60% (potensi atlet meraih medali). Syukur-syukur bisa 100% (atlet meraih medali),” tambahnya.
Dengan sinergi antara regulasi yang ketat, fasilitas yang mumpuni, dan evaluasi berbasis data, Kabupaten Kediri kini siap menatap 2027 bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai ancaman nyata bagi penghuni papan atas klasemen.

