TAKTIK.ID — Kesehatan mental atlet muda mulai mendapat perhatian serius dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur. Melalui deklarasi kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu”, KONI Jatim mendorong terciptanya lingkungan yang lebih aman bagi atlet untuk berbicara mengenai tekanan dan persoalan yang mereka hadapi.
Deklarasi tersebut melibatkan tiga pihak, yakni KONI Jatim, Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Surabaya, dan RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya.

Langkah ini dinilai penting karena atlet muda tidak hanya menghadapi tuntutan untuk berprestasi, tetapi juga tekanan dari keluarga, pelatih, lingkungan sosial hingga target yang mereka tetapkan sendiri.
Direktur RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya, Vitria Dewi, mengungkapkan bahwa persoalan kesehatan mental lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa.
“Masalah mental itu lebih banyak di laki-laki daripada perempuan. Mau anak-anak, mau dewasa, itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan,” ujar Vitria.
Menurut Vitria, salah satu persoalan yang perlu diubah adalah stigma terhadap anak laki-laki yang dianggap tidak boleh menunjukkan emosi atau kelemahan. Padahal, kebiasaan memendam persoalan justru dapat meningkatkan tekanan yang mereka rasakan.
“Anak laki-laki kok cengeng, kok banyak omong. Tapi di situlah sebenarnya dia memendam perasaannya yang harusnya ada suara yang kita semua mendengarkan,” katanya.
Kondisi tersebut juga dinilai relevan dengan kehidupan atlet muda. Sebagai atlet, mereka dituntut tampil maksimal sekaligus membawa harapan keluarga dan daerah dalam berbagai kompetisi.
Tekanan dapat muncul ketika atlet harus memenuhi target tertentu, termasuk tuntutan untuk meraih medali. Jika target tersebut tidak sesuai dengan kapasitas atlet, tekanan psikologis dapat semakin besar.
“Bisa saja, mereka ditarget atau menargetkan diri harus menang, ditarget harus medali emas. Padahal, itu justru menjadi beban besar yang ia rasa di luar batas kemampuannya. Tapi dia enggak berani mengungkapkan pada orang tuanya. Itu bisa saja menjadi satu tekanan luar biasa,” jelasnya.
Ketua FPPI Surabaya, Nenny W. Gunarso, menilai anak laki-laki juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, serta ruang untuk mengungkapkan perasaan.
“Anak perempuan dan laki-laki itu sama-sama berhak mendapatkan kasih sayang, sama-sama berhak mendapatkan pelukan hangat. Enggak ada beda di sana,” ujarnya.
Nenny menilai kebiasaan menahan emosi karena takut dianggap lemah atau cengeng dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan anak. Karena itu, orang tua didorong untuk lebih terbuka dalam mendengarkan dan memahami kondisi anak laki-laki.
Sementara itu, Ketua KONI Jawa Timur, M. Nabil, menegaskan bahwa persoalan mental merupakan bagian penting dalam pembinaan atlet. Menurutnya, atlet yang mengalami tekanan berlebihan sebelum pertandingan berpotensi kehilangan fokus dan performa terbaiknya.
“Jangan sampai sebelum tanding sudah tegang, sudah nervous, sudah muncul masalah. Potensi kemenangannya juga pasti tereduksi cukup besar,” kata Nabil.

Sebagai langkah konkret, KONI Jatim berencana menjalin kerja sama dengan RSD Prof. Moeljono. Salah satu program yang disiapkan adalah menghadirkan ruang santai atau ruang cangkrukan yang dapat digunakan atlet untuk beristirahat, bersosialisasi, dan mengurangi tekanan.
“Kita akan MOU dengan Rumah Sakit Daerah Prof. Moeljono. Segera,” tegasnya.
Program tersebut nantinya tidak hanya ditujukan bagi atlet laki-laki. Nabil memastikan fasilitas dan dukungan kesehatan mental tersebut akan diperuntukkan bagi seluruh atlet KONI Jatim.
Kolaborasi KONI Jatim, FPPI Surabaya, dan RSD Prof. Moeljono diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem olahraga yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis atlet.
Dengan adanya ruang aman bagi atlet untuk berbicara dan mendapatkan dukungan, pembinaan di Jawa Timur diharapkan mampu melahirkan atlet yang tidak hanya kuat secara fisik dan kompetitif di lapangan, tetapi juga memiliki mental yang sehat dalam menghadapi tekanan prestasi.