Taktik.id – Persib Bandung harus mengakhiri petualangannya di AFC Champions League (ACL) 2 2025-2026 dengan kepala tegak namun hati yang panas. Meski sukses menaklukkan Ratchaburi FC 1-0 pada leg kedua babak 16 besar (18/2), Maung Bandung harus merelakan tiket perempat final karena kalah agregat 1-3.
Namun, bukan skor akhir yang menjadi headline utama, melainkan sosok pengadil di tengah lapangan yang menyita perhatian. Majed Mohammed Al-Shamrani, wasit yang memimpin pertandingan penting Persib malam tadi mendapat banyak protes keras atas keputusannya yang dianggap merugikan tim tuan rumah.
​Bagi pendukung sepak bola Indonesia, nama Al-Shamrani adalah sinyal bahaya. Wasit asal Arab Saudi ini seolah menjadi “antagonis” bagi tim asal Indonesia. Ingatan kolektif kita tentu masih segar pada Piala Asia U-23 2024, di mana keputusannya menjauhkan mimpi Olimpiade dari Garuda Muda dan ​Rabu malam kemarin, sejarah kelam itu terulang.
Kepemimpinannya di GBLA dinilai tidak berimbang, saat lelanggaran keras pemain Ratchaburi terhadap kepala Adam Alis hanya dianggap angin lalu tapi sangat “dermawan” memberikan kartu kepada penggawa Persib.
​Drama VAR pun terjadi ketika gol Berguinho yang dianulir serta pengesahan gol Andrew Jung (menit ke-39) yang diwarnai drama pengecekan posisi Alfeandra Dewangga membuat tensi penonton di tribun mendidih.
Mimpi comeback Persib praktis menjadi misi mustahil sejak menit ke-50. Uilliam Barros, mesin penggerak Maung Bandung, diusir keluar lapangan setelah tekelnya terhadap Jonathan Khemdee langsung diganjar kartu merah tanpa ampun.
Meski layar VAR tersedia, Al-Shamrani menolak untuk goyah. Bermain dengan 10 orang melawan tim sekelas Ratchaburi—yang sudah unggul agregat—membuat strategi Bojan Hodak berantakan. Persib memang menang secara angka di leg kedua, tapi kalah secara momentum akibat keputusan-keputusan kontroversial.
Persib Bandung kini harus pulang ke kompetisi domestik dengan segudang evaluasi. Meski gagal melaju, dominasi permainan yang mereka tunjukkan dengan 10 orang membuktikan bahwa kelas Maung Bandung sebenarnya sudah layak bersaing di level Asia, andai saja “faktor non-teknis” tidak ikut campur.

