Taktik.id – GOR Ken Arok menjadi saksi bisu runtuhnya keangkuhan raksasa Proliga 2026. Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia, yang selama ini tampil nyaris sempurna, harus tertunduk lesu setelah dipaksa menyerah 1-3 (17-25, 22-25, 25-22, 20-25) oleh Jakarta Livin Mandiri. Namun, sorotan utama bukan sekadar angka di papan skor, melainkan kursi kosong di bangku kepelatihan yang seharusnya diisi oleh Alessandro Lodi.
Kekalahan ini mengonfirmasi satu hal, Mediol Yoku dan kawan-kawan seperti kehilangan arah. Tanpa instruksi taktikal dari sang arsitek asal Italia tersebut, skuad bertabur bintang ini tampil tanpa pola yang jelas.
Koordinasi Lini Belakang: Pertahanan yang biasanya rapat kini mudah ditembus oleh serangan Jakarta Livin Mandiri. Bahkan saat tertinggal di set pertama dan kedua, tim tampak panik dan tidak memiliki skema itu terlihat dari beberapa kali pemain yang dirotasi.
JIka dilihat lebih dalam lagi sering kali penerimaan bola dari Gresik Phonska Plus yang buruk membuat alur serangan tidak jalan. Ditambah bola dari setter ke spiker kehilangan kreativitas yang menjadi ciri khas “Sistem Italia” musim ini.
Meski manajemen berdalih bahwa absennya Lodi selama sepekan terakhir disebabkan oleh masalah kesehatan, publik mulai meragukan alasan tersebut. Absensi yang terlalu lama di tengah jadwal padat Proliga memicu spekulasi mengenai stabilitas internal tim.
Asisten pelatih Gresik Phonska Plus, Niko Dwi tidak bisa memberi kepastian tentang absennya pelatih Alessandro Lodi, tapi ia memberikan isyarat jika di seri Bojonegoro besok ada kemungkinan sang juru taktik itu akan kembali.
“Saya hanya diberi tugas memimpin tim untuk di Malang saja,” ungkap Niko seusai pertandingan.
Kita tunggu saja apakah manajemen akan tetap menunggu kesembuhan sang Mister, ataukah ada langkah darurat untuk menyelamatkan ambisi juara sebelum trofi benar-benar menjauh? Satu yang pasti, fans menuntut kejelasan, bukan sekadar janji tentang kesehatan yang tak kunjung pulih.

