Taktik.id – Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, melontarkan kritik tajam terhadap draf jadwal Piala Presiden 2026 yang dinilai tidak ideal bagi klub maupun kondisi pemain.
Turnamen pramusim tahunan gagasan PSSI itu kembali menjadi sorotan menjelang berakhirnya kompetisi Super League 2025/2026. Persebaya sendiri sebelumnya sempat memilih absen dari ajang tersebut, sehingga peluang tampil pada edisi 2026 menarik perhatian publik dan Bonek.
Bernardo Tavares menegaskan pada dasarnya Persebaya mendukung adanya lebih dari satu kompetisi di Indonesia. Menurutnya, tambahan turnamen dapat membantu meningkatkan atmosfer sepak bola nasional sekaligus memberi ruang kompetitif bagi pemain.
“Saya pikir semua klub ingin memiliki lebih dari satu kompetisi dan saya rasa Persebaya juga menginginkannya,” ujar Bernardo Tavares.
Namun, pelatih asal Portugal itu mempertanyakan konsep jadwal yang disusun penyelenggara. Berdasarkan draft yang diterima klub, Piala Presiden 2026 akan dimulai pada 28 Juni dan berakhir pada 11 Juli jika sebuah tim berhasil mencapai final.
“Masalahnya adalah jadwal Piala Presiden yang diberikan oleh penyelenggara kepada kami mengatakan bahwa dimulai pada 28 Juni, dan jika kami pergi ke final selesai pada 11 Juli,” kata Bernardo Tavares.
Menurut Bernardo Tavares, persoalan terbesar justru muncul setelah turnamen berakhir. Ia menilai jeda terlalu panjang sebelum dimulainya kompetisi resmi akan menyulitkan tim pelatih menjaga kebugaran pemain.
Jika kompetisi baru dimulai kembali pada awal September, maka klub yang tampil hingga final berpotensi tidak memiliki pertandingan kompetitif selama hampir dua bulan.
“Jadi saya pikir itu tidak masuk akal. Bayangkan jika kami masuk ke final, kami akan menganggur dari sejak 11 Juli sampai 4 September. Apa yang akan kami lakukan di waktu luang sepanjang itu. Saya pikir itu tidak masuk akal,” tegas Bernardo Tavares.
Situasi tersebut dinilai dapat berdampak pada ritme permainan, kondisi fisik pemain, hingga stabilitas program latihan tim. Kritik Bernardo Tavares pun menjadi sinyal bahwa klub-klub peserta menginginkan sinkronisasi jadwal yang lebih matang antara turnamen pramusim dan kompetisi resmi musim depan.