Taktik.id – Misi Persebaya Surabaya untuk mencuri poin di Stadion Segiri pada Sabtu (7/3/2026) berakhir menjadi mimpi buruk. Skor telak 5-1 untuk kemenangan Borneo FC menjadi kekalahan terbesar di era kepelatihan Bernardo Tavares.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Jika menilik pernyataan sang juru taktik, ada beberapa faktor krusial yang menjadi “lubang” penyebab hasil tragis tersebut.
Salah satu alasan utama skor mencolok ini adalah keputusan Tavares untuk tetap tampil terbuka meski dalam posisi tertinggal. Persebaya menolak untuk sekadar “parkir bus” demi meminimalisir kekalahan justru menjadi bumerang.
“Ketika kami tertinggal, kami punya dua pilihan: menyerah atau terus mencoba. Kami memilih untuk tetap menyerang,” ungkap Tavares.
Pilihan berani ini meninggalkan celah besar di lini pertahanan. Saat Persebaya menaikkan intensitas serangan untuk mengejar ketertinggalan, organisasi pertahanan mereka menjadi longgar.
Borneo FC yang memiliki transisi cepat berhasil mengeksploitasi ruang kosong yang ditinggalkan Bajol Ijo berulang kali.
Meski kalah telak secara skor, Tavares menegaskan bahwa timnya bukan tanpa perlawanan. Persebaya sebenarnya mampu menciptakan beberapa peluang emas.
Namun, perbedaan kualitas penyelesaian akhir menjadi pembeda yang sangat kontras, tim tuan rumah sangat klinis dalam memanfaatkan setiap kesalahan lawan. Berbanding terbalik, Persebaya justru kesulitan mengkonfersi peluang dan hanya dapat memberikan satu gol balasan.
Secara persiapan, tim pelatih sebenarnya sudah melakukan “pekerjaan rumah” mereka. Tavares mengaku telah menganalisis video pertandingan Pesut Etam dan memberikan instruksi spesifik dalam latihan.
Namun, pada hari pertandingan, terdapat diskoneksi antara rencana taktis dan eksekusi pemain di lapangan.
“Kami sudah menganalisis lawan, menunjukkan video kepada pemain, melakukan latihan untuk mempersiapkan pertandingan ini. Namun hari ini kami tidak mampu menunjukkan performa terbaik,” katanya.
Kini, analisis mendalam menjadi agenda wajib sebelum laga berikutnya. Persebaya harus menemukan keseimbangan antara ambisi menyerang dan kedisiplinan bertahan agar tragedi serupa tidak terulang kembali.

